"Barang siapa menginginkan dunia, maka dengan ilmu. Barang siapa mengingkan akhirat, maka dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, maka dengan ilmu." HR. At-tirmidzi
Posted by Dewi Emy in
on
-
Nonton Premier Film Dokumenter Eagle Awards
Wah ini salah satu pengalaman saya yang istimewa banget meskipun cuma nonton premier dan nggak ikutan kompetisi Eagle Award-nya. Itung-itung tambah pengalaman lah. Kebetulan saya bareng temen saya datang ke Erasmus Huis (Kedubes Belanda) di wilayah Kuningan. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di sebuah Kedubes (Bangga banget tapi bukan ‘norak’ karena belom tentu semua orang bisa masuk kalo nggak ada event khusus. Tinggal naek TransJakarta Bus Koridor VI (Dukuh Atas – Ragunan) turun di Halte Kuningan Timur sampai deh. Lokasi Erasmus Huis berseberangan dengan Grand Melia. Erasmus Huis juga bersebelahan dengan Kedubes Swiss dan Kedubes Republik Hungaria. (Nah, info ini penting banget terutama buat mahasiswa HI. Siapa tau mo kirim lamaran atau hunting diplomat bule2, whuehehe,,he,,he,, J ).
Oh iya, Eagle Awards ini memang sengaja diselenggarakan Metro TV bareng In-Docs untuk mencari para sineas muda Indonesia yang punya bakat di dunia perfilman, khususnya film dokumenter dan juga melahirkan sineas-sineas muda yang mampu bersaing dengan sineas-sineas muda lainnya dari negara-negara lain. (Anda tertarik ??). Tema film dokumenter kali ini adalah “Hijau Indonesiaku” (My Green Indonesia).. Udah terpilih lima tim yang masuk babak final, tapi belum diumumkan siapa yang berhak dapat Trophy Eagle Awards karena masih November nanti. Jadi sabar aja ya tunggu film-film dokumenter yang dibuat kelima tim tadi.
Ada lima film yang berhasil lolos babak penyeleksian, antara lain: 1). Prahara tsunami Bertabur Bakau (Raising Mangroves After the Tsunami) yang disutradarai oleh Emanuel Tome Hayon dan Mikhael Yosviranto yang menceritakan tentang seorang Baba Akong yang ditemani istri yang menangani dan memperjuangkan seorang diri penanaman pohon bakau setelah kampungnya di Flores, Nusa Tenggara Timur, diterjang oleh tsunami pada bulan Desember 1992. Belum lagi ditambah dengan cemoohan para tetangga yang menganggap dia dan istrinya gila karena dianggap telah melakukan hal yang sia-sia dengan menanam pohon bakau yang tidak bisa menghasilkan apa-apa selain kayunya dapat digunakan untuk kayu bakar. Namun perjuangannya bersama sang istri setelah 16 tahun terbayar sudah. 23 hektar hutan bakau kini sudah nampak memberikan banyak manfaat terhadap penduduk di sekitar pesisir pantai di mana Baba Akong tinggal. Nelayan pun dapat dengan mudah mencari ikan, karena dengan adanya bakau menjadi tempat tinggal bagi ikan-ikan. Selain itu, dahan pohon bakau dapat digunakan untuk kayu bakar. Baba Akong sendiri akhirnya juga dinominasikan tahun untuk mendapat penghargaan Kalpataru dalam mempelopori pelestarian lingkungan, 2). Pulau Bangka yang Menangis ( The Crying Bangka Island) yang disutradari oleh Rudi Harlan dan Nursubah dari Bangka Belitung. Film ini mengisahkan kehidupan dua orang teman, Fatoni dan Edy, di mana keduanya bekerja di penambangan timah hingga mereka menyadari kualitas timah di Bangka secara bertahap mulai menurun dan mulai habis jumlahnya. Sementara Edy tetap berkeyakinan terhadap profesinya dan terus meggali dan menggali dan menemukan penambangan timah baru di seantero Belitung. Fatoni banting setir dari profesinya sebagai penambang timah dan memutuskan untuk menanam pohon karet dan pohon palem di tanah di mana sebelumnya ia menggali timah. Meskipun keduanya memiliki keyakinan dan pendapat yang berbeda, keduanya tetap lah berteman, 3). Buah Yang Menunggu Mati (Fruit Awaits Its Death) disutradarai oleh Anom Bayu Santoso dan Badrudin Kurniyawan. Film ini berawal dari kecurigaan terhadap penurunan kualitas penanaman pohon apel di Batu, Jawa Timur. Dahulu sanjungan yang tak pernah henti-hentinya didapatkan Batu sebagai ikon kota di Jawa Timur karena produksi apelnya yang terkenal. Namun kini, produksi apel tengah menanti hari-hari ke’matian’nya sebagai hasil dari penggunaan pestisida yang berlebihan selama beberapa dekade lalu. 4). Menjual Mimpi di Sambak (Selling Dreams in Sambak) yang bercerita tentang para pengamat setempat di desa Sambak di Magelang, Jawa Tengah, yang mencoba untuk melindungi hutan mereka yang memiliki arti penting bagi mereka dan mencegah terjadinya penebangan liar (illegal logging) dengan cara menanam pohon-pohon buah di seluruh hutan dan dan mengubah fungsi hutan yang bisa digunakan untuk tujuan wisata alam. Dan tentunya hal ini menguntungkan penduduk setempat dari segi ekonomi, dan 5). Tanah Terakhir (The Last Land) disutradari oleh Rahmawati dan Esti Asmalia, yang emnyoroti kontrasnya keadaan antara perusahaan besar yang menggunakan tanah di sepanjang Sungai Krio di Kalimantan Barat dan penduduk asli yang tinggal di tanah itu yang hidupnya tak kunjung lebih baik dengan kehadiran perusahaan besar itu yang berdasarkan dugaan mendatangkan banyak keuntungan. Sementara itu, premis dari film tersebut sudah bisa ditebak dari awal. Film itu banyak menceritakan tentang kisah ayah dan anak yang cenderung keluar dari tema yang seharusnya. Di mana sang Ayah dengan segala daya dan upaya mencoba untuk tetap mempertahankan tanah kelahirannya dengan cara tidak menebang pohon, kecuali untuk keperluan hidup dan tetap melakukan reboisasi sementara anaknya melakukan pembabatan hutan yang bisa merusak ekosistem yang merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab.
Nonton film ini menambah pengetahuan baru buat saya, karena saya bisa melihat kehidupan-kehidupan orang lain di belahan nusantara lainnya yang berinteraksi langsung dengan alam dan they do something that have to be done for their living and their generation’s living. Salutt,, banget buat mereka yang dengan jerih payahnya meskipun dibilang ‘gila’ karena apa yang mereka lakukan supaya bumi nggak semakin menangis. Secara saya hidup di kota metropolis yang depan-belakang dan kanan-kiri, adanya gedung pencakar langit, tembok, kendaraan bermotor, polusi, dan macam-macam lainnya yang buat bumi yang sudah tua jadi kelihatan tambah tua. Dan saya sadari saya adalah satu dari sekian juta orang yang membuat bumi kelihatan makin tua. Untuk itu, saya setidaknya juga melakukan suatu hal yang bisa dibilang sepele namun buat saya ini sangat berarti dan mungkin memang sudah kita ketahui bersama, yaitu dengan membuang sampah pada tempatnya, melakukan penghematan kertas, dan menanam tanaman yang setidaknya membuat lingkungan di sekitar rumah saya terlihat asri dan sejuk. Terlihat sepele namun masih banyak orang yang kurang tergerak untuk melakukannya. Selamat untuk Metro Tv dan In-Docs dengan menggelar kompetisi ini dengan topik “Hijau Indonesiaku” mudah-mudahan bisa mengena di hati para penonton di seluruh Indonesia untuk memberikan inspirasi dan solusi baru agar melakukan upaya untuk melestarikan sekurang-kurangnya alam Indonesia sendiri. Oh ya, untuk informasi lebih lanjut mengenai Eagle Awards Documentary Competition ini Anda bisa mengakses di http://www.metrotv.com/eagles/ . HIJAU INDONESIAKU!!!
C'est Moi
- Dewi Emy
- Moslem Agent ✿ Travelicious ♥ Culinary Lover ♥ Volunteer ♥ Startup Entrepreneur ✿ Blogger ☆☆☆
