"Barang siapa menginginkan dunia, maka dengan ilmu. Barang siapa mengingkan akhirat, maka dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, maka dengan ilmu." HR. At-tirmidzi

Di satu sisi ada orang yang mulai tumbuh kesadarannya untuk hidup sehat, bersih, dan alami, contohnya bike to work, Car Free Day, dan sebagainya. Tapi sangat disayangkan di sisi lain ada juga pihak-pihak yang belum sadar akan bahaya polusi udara yang ditimbulkan dari asap knalpot kendaraan yang mungkin sudah lama tidak masuk bengkel untuk perawatan atau peremajaan kembali mesin-mesin kendaraannya.
Sungguh miris saat saya sedang berada di dalam TransJakarta bus di mana saya melihat sepasang suami-istri yang bersepeda hendak menyeberang jalan sementara di depannya ada sebuah bus kopaja yang sudah sangat tidak layak pakai mengeluarkan asap knalpot yang pastinya bau, berdebu, sangat hitam warnanya, dan tentu saja langsung mengganggu sistem respirasi.
Dari kejadian tersebut, saya jadi berpikir berapakah anggaran yang banyak dibutuhkan oleh Pemkot, Pemda, hingga Pempusat untuk membenahi sistem transportasi di daerah ibu kota Jakarta ini hingga membutuhkan waktu yang lama dan mungkin proses prosedural yang sangat kompleks atau justru mereka enggan untuk menyelesaikan PR yang justru pada akhirnya akan terus menumpuk. Sebegitu sulitnya kah untuk mengajak para pengusaha kendaraan umum untuk bekerja sama dengan memberikan mereka softloan kepada mereka untuk mencicil kendaraan yang lebih eco-friendly dan aman serta nyaman untuk ditumpangi. Selain itu, rekrutlah para lulusan terbaik di bidang teknologi, entah lulusan dalam negeri ataupun luar negeri untuk bisa menciptakan kendaraan masa depan yang eco-friendly tsb. di bawah pengawasan Kemenristek. Jadi, terjadi kolaborasi dari banyak pihak dalam menyelesaikan kemacetan dan juga polusi udara di wilayah Jakarta.