"Barang siapa menginginkan dunia, maka dengan ilmu. Barang siapa mengingkan akhirat, maka dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, maka dengan ilmu." HR. At-tirmidzi

Dalam hadits riwayat Ibnu Huzaimah, dari Salman al-Farisi, Rasulullah saw. bersabda, "Bulan Ramadhan itu adalah bulan yang di awalnya penuh dengan rahmat. Di pertengahannya penuh dengan ampunan. Dan di ujungnya pembebasan dari azab neraka."

Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menjadikan Ramadhan bulan yang penuh kebaikan, keindahan, kemuliaan, keagungan, sekaligus kelezatan samawi dan ardhi, jasmani, dan rohani. Betapa tidak, di samping berbagai kebaikan yang ada pada bulan ini, Allah SWT melalui lisan rasul-Nya telah menurunkan rahmat, kasih sayang, dan cinta-Nya pada sepuluh hari pertama, maghfirah dan ampunan-Nya pada sepuluh hari kedua, dan pembebasan dari siksa neraka pada sepuluh hari yang ketiga.

Untuk mendapatkan keutaman dari sepuluh hari pertama dalam Ramadhan, diperlukan upaya serius dan sungguh-sungguh disertai dengan keikhlasan yang tinggi dengan mengerjakan ibadah wajib dan sunah, serta mengamalkannya secara istiqamah.

Selain mengerjakan ibadah yang utama, yakni puasa, ada juga ibadah sunah lainnya. Pertama, memanfaatkan momentum waktu sahur (di samping makan sahur) juga untuk rukuk dan sujud (shalat Tahajud), berkomunikasi, bermunajat, serta beristighfar kepada Allah SWT atas segala dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan, baik diri pribadi dan keluarga maupun masyarakat dan bangsa. "[Yaitu] orang-orang yang sabar, yang benar (jujur), yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun pada waktu sahur." (QS. Ali Imran [3]: 17).

Kedua, melakukan tilawah dan tadabur Al-Qur'an. Dengan tadabur yang terus-menerus, diharapkan hati kita akan semakin terang dan terbuka serta pikiran kita semakin jernih dan tajam karena telah dipenuhi cahaya Ilahi sehingga tidak tersesat dalam menata kehidupan. (QS. Al-Maidah [5]: 15-16).

Ketiga, menumbuhan semangat ukhuwah islamiyah, membangun persaudaraan melalui silaturahim, shalat berjamaah, tadarus bersama, saling mendo'akan, dan juga buka puasa bersama yang dilandasi dengan keikhlasan dan kecintaan di mana keduanya menjadi modal utama dalam mengukuhkan solidaritas dan kesatuan umat.

Keempat, menguatkan semangat berbagi dan solidaritas kepada sesama, terutama kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan, di antaranya kaum fakir miskin, kaum dhuafa, bahkan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah.

Semangat berbagi yang dilandasi dengan rasa ikhlas akan menyebabkan harta menjadi berkah karena do'a orang yang lemah tidak akan terhijab dari Allah SWT dengan kata lain do'a orang-orang tersebut akan selalu dikabulkan.

Wallahu'alam.

Sumber: Republika, Kamis, 11 Juli 2013, oleh KH. Didin Hafidhuddin