"Barang siapa menginginkan dunia, maka dengan ilmu. Barang siapa mengingkan akhirat, maka dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, maka dengan ilmu." HR. At-tirmidzi

Sumber: Zulfi Akmal - Cairo


3 hari yang lalu..

              Di antara nasihat guruku Syeikh Muhammad Rawi yang selalu terngiang di telinga dan tidak akan pernah lupa sekalipun sudah berlalu agak lama.
          Dia berkata, "Ananda, hal yang paling sulit dalam berdakwah adalah menjaga keihklasan niat. Dakwah ini tidak akan diterima oleh Allah kecuali bila keluar dari hati yang betul-betul bersih. Seorang da'i bila tidak ikhlas akan mudah ghurur atau syok. Pongah atas capaian dakwahnya ketika melihat banyaknya orang yang mendapat hidayah melalui perantara dirinya. Padahal ia hanya sebagai penyampai, yang memasukkan hidayah itu ke dalam hati orang lain adalah kehendak Allah semata, bukan karena keinginannya.
               Sebaliknya, seorang da'i bila tidak ikhlas akan mudah putus asa ketika ia lihat tidak adanya orang yang menerima dakwahnya. Padahal tugasnya hanya menyampaikan dengan cara benar, diterima orang atau tidak bukan urusannya. Nabi Nuh as. berdakwah 950 tahun, hanya segelintir orang yang mau beriman. Hal itu tidak menjadikan Nabi Nuh as. seorang rasul yang gagal. Beliau malah menjadi salah seorang Rasul Ulul 'Azmi.
              Rasulullah saw. mengatakan bahwa di akhirat nanti ada seorang nabi yang datang dengan 3 orang umatnya, ada yang 1 orang, bahkan ada yang datang sendirian tanpa pengikut seorang pun. Apakah nabi itu gagal? Tidak.
           Seorang da'i apabila tidak ikhlas akan menjadikan dakwahnya sarana untuk balas dendam dan menyakiti orang lain. Dengan kepintaran retorikanya ia akan bisa menyindir dan menusuk orang dengan kata-katanya. Apalagi bila ia punya kedudukan, ia bisa menggunakan pengaruhnya untuk intiqam terhadap orang lain. Sementara Allah tidak menerima itu semua, kecuali yang betul-betul ikhlas karena Allah.
            Seorang da'i apabila tidak ikhlas akan mudah dirasuki oleh hawa nafsu dan syahwat bicara. Akhirnya apa yang ia sampaikan bukan lagi murni pesan yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya, tapi sudah bercampur keinginan pribadi sang da'i. Hal itu akan terbukti bagaimana ia memberikan tanggapan balik di saat apa yang ia sampaikan ditentang oleh mad'unnya.  
          Seorang da'i yang tidak ikhlas akan mudah menawarkan dalil, baik dari Al-Qur'an maupun hadits. Apakah itu demi keselamatan dirinya, atau jabatan maupun karena ingin harta dunia. Lebih mengerikan lagi jika disebabkan oleh dendam kepada pihak lain. Da'i seperti ini sangat berbahaya bagi umat, karena ia sebenarnya lagi mengajak umat ke neraka, tapi dalam pandangan mereka yang lugu, ia hendak menuju surga.
           Oleh karena itu, raba dulu dada sebelum bicara dan menulis. Apakah ini betul-betul karena Allah atau ada maksud lain. Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali kebaikan."