"Barang siapa menginginkan dunia, maka dengan ilmu. Barang siapa mengingkan akhirat, maka dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, maka dengan ilmu." HR. At-tirmidzi
Posted by Dewi Emy in
on
-
"Bisnis apa yang ingin kamu bikin?" tanya seorang wirausaha tersohor kepada seorang pemuda dalam sebuah seminar bisnis. "Cita-cita saya sederhana, hanya ingin bikin warung nasi uduk," jawab pemuda itu. "Kenapa belum dimulai?" sang wirausaha melanjutkan pertanyaannya. Si pemuda mengatakan bahwa dia berani karena modal masih kecil dan ia tidak yakin akan mendapatkan pelanggan. "Coba mulai dulu usahamu. Saya akan menjadi orang pertama yang membeli nasi udukmu," ujar pengusaha itu. "Jangan hanya karena ketakutanmu kamu berhenti," lanjutnya. Keberhasilan bukan perkara seberapa sempurna kita, melainkan seberapa gigih kita.
Dalam mitologi Yunani, dikenal Dewa Hephaestus. Ia adalah putera pertama Dewa Zeus dan Dewi Hera. Hephaestus merupakan dewa api, tukang kayu, penempa besi, dan perajin senjata. Ia disembah di semua pusat industri dan manufaktur di Yunani, terutama di Athena. Hephaestus merupakan satu-satunya dewa yang tidak memiliki paras tampan seperti dewa-dewa lainnya. Dia juga satu-satunya dewa yang lumpuh. Ia pincang karena terjatuh dari Olimpus.
Meski memiliki banyak kekurangan, Hephaestus mampu berkarya dengan luar biasa. Dari bengkel kerjanya, penguasa api dan tempaan ini menciptakan istana, makam, senjata seperti halilintar Zeus, dan baju baja Athena. Dia merupakan dewa tukang besi dan pembuat perisai para dewa.
Dalam kaitannya dengan kreatifitas dan keberanian untuk berkarya, Hephaestus dapat dijadikan cermin. Dalam puisi dan literatur-literatur Yunani, Hephaestus juga merupakan salah satu dewa yang membangun relasi positif dengan manusia. Ia mengajarkan bagaimana membuat karya dan memberi arti tentang pentingnya berkarya. Padahal, dalam literatur tersebut, dikatakan juga bahwa tak lazim seseorang yang mengalami kekurangan fisik menjadi perkara seni.
Hephaestus tidak memberikan kekurangan dirinya menjadi alasan untuk membuatnya berhenti membuat karya seni. Bahkan, ketidaksempurnaan menjadi katalis untuk menjadi lebih kreatif. Ketidaksempurnaan bukan penghalang untuk maju.
Kembali ke kisah pengusaha dan pemuda yang ingin membuka bisnis nasi uduk, pengusaha itu membagikan pelajaran terpenting yang diperolehnya dari pengalaman sendiri, "Jangan karena kekurangan, kita lantas takut gagal. Semua orang pasti mengalaminya. Kalau belum pernah gagal, saya doakan Anda supaya gagal dulu karena setelah itu kita bisa bangkit dan menjadi lebih kuat."
Sumber: Kompas [Tips Kewirausahaan], 5 Januari 2014
C'est Moi
- Dewi Emy
- Moslem Agent ✿ Travelicious ♥ Culinary Lover ♥ Volunteer ♥ Startup Entrepreneur ✿ Blogger ☆☆☆