"Barang siapa menginginkan dunia, maka dengan ilmu. Barang siapa mengingkan akhirat, maka dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, maka dengan ilmu." HR. At-tirmidzi

Surga Gunung Semeru

Alhamdulillah, akhirnya dapat kesempatan juga untuk mencoba traveling dengan suasana dan sensasi baru. Yeayyyy... Sempet deg-degan dan waswas juga apakah diriku mampu mendaki sekian ribu mdpl???!!! Jawabannya ... Alhamdulillah, luar biasa (sujud syukur). Meskipun dengan susyahhh payahhh dan senang luar biasa..
Kamis, 31 Juli 2014
10.30 WIB - 02.30 WIB (1/8/14) ::
Berangkat dengan menggunakan kereta ekonomi AC (St. Jakarta  Kota - Surabaya Gubeng) cukup dengan Rp. 55.000,- saja untuk bisa sampai Surabaya hehehe (pesannya H-90 dan dini hari booking seat-nya). Niat awalnya adalah supaya bisa keliling kota Surabaya dulu sebelum meneruskan perjalanan ke kota Apel (Malang, red.). Ternyata jadwal kereta paling pagi adalah pukul 06.00 WIB, jadi rencana keliling kota Surabaya terpaksa tertunda. Karena lebih memilih untuk berkeliling kota Malang dan Batu sesuai dengan rencana pertama. Durasi perjalanan dengan KA Eko AC memang sangat melelahkan dan menjemukan. Berangkat pukul 10.30 WIB dan tiba di Surabaya pukul. 02.30 WIB dini hari. Amazing!!! Mundur 1 jam 30 menit dari jadwal semula adalah hal yang biasa dialami oleh penumpang eko AC.

Jumat, 1 Agustus 2014
02.30 WIB - 03.00 WIB ::
Setibanya di St. Surabaya - Gubeng adalah mencari deretan bangku kosong sambil menunggu jadwal keberangkatan selanjutnya ke Malang. Ternyata bangku yang ada di dalam stasiun tidak boleh diduduki sembarangan. Penumpang transit tetap harus menunggu di lobby luar St. Surabaya Gubeng. Untung saja ada petugas porter yang berbaik hati menunjukkan dimana saya harus menunggu sebelum menunggu kereta selanjutnya. Sebenarnya agak ketar-ketir juga saat petugas keamanan meminta untuk tidak menunggu di dalam stasiun. Karena kalau harus menunggu di luar, harus kemanakah saya. Menghubungi teman yang sedang ada di Surabaya bisa saja, cuma saya sudah bilang untuk tidak perlu menjemput karena kereta terlambat datang dan saya akan menunggu di stasiun saja sampai esok hari.
03.00 WIB - 05.30 WIB ::
Sambil menunggu waktu keberangkatan pukul 06.00 WIB dengan KA Eks Bima (St. Surabaya Gubeng - Malang) [hanya Rp. 30.000,- saja kok :) ], saya berusaha untuk beristirahat sejenak.
08.30-09.30 WIB ::
Pukul 08.30 WIB tiba di Malang. Langsung mencari angkot ke Guesthouse Tunas Mandiri Jaya . Menurut petunjuk "Si Mbak"nya bisa naik angkot AL turun di perempatan Jl. Jombang dan jalan ke arah barat. Awalnya masih bingung cari-cari dimana angkot yang bertuliskan "AL" dan ternyata memang angkot di Malang diberi kode huruf bukan dengan angka seperti kebanyakan angkot di Jakarta (yang saya tahu lho :D). Lucu-lucu juga sih liat kodenya, yang paling menggelitik ada angkot bertuliskan ABG (Arjosari - Borobudur - Gadang), hehehe..
09.30 WIB - 15.00 WIB ::
Setelah istirahat dan berganti pakaian, saya dan 2 orang teman (Satria dan Indah) berencana  ke Museum Angkut Batu - Malang dan wisata agro. Karena #angkoters alhasil hanya bisa ke Museum Angkut. Setelah 2 kali naik angkot dari Guesthouse bisa naik angkot LG/AL dan turun di Terminal Arjosari (ongkos cukup Rp. 3.000). Oh iya, jika teman-teman traveler ada yang mau cari penyewaan atau beli peralatan gunung di dekat terminal ada beberapa kiosk yang menyediakan jasa tersebut, tapi sayangnya memang kurang lengkap. Dari terminal Arjosari, kami naik angkot berwarna ungu muda dan turun di Terminal Batu (ongkos juga sama Rp. 3.000). Karena kami salah naik angkot, jadi harus turun-naik angkot padahal bisa langsung sekali jalan dan sampai di Batu dengan naik angkot berwarna hijau muda dari Terminal Arjosari. Setelah sampai di terminal Batu, kami berganti angkot lagi dengan angkot berwarna orange. Karena musim libur lebaran, jalan-jalan di Batu pun yang ke arah tempat wisata juga sangat padat dan macet, jadi memakan waktu cukup lama sekitar 20-30 menit untuk sampai di Museum Angkut dari Terminal Batu. Pfuihh,,, cuma bisa ngelus dada tapi seru sih ngbolang, huehehehe..
15.00 WIB - 18.00 WIB (Waktu Indonesia sekitar Batu) ::
Habis puas keliling Museum Angkut dengan segala ke"selfie"annya, kami kembali pulang ke asal untuk persiapan besok mendaki gunung dan berhenti di Ranukumbolo. Dengan rasa Percaya Diri tingkat dewa kami pulang menjelang senja. Eng ing engggg,, ndak ada angkot sodara-sodara!!! Kami terpaksa berjalan kaki +/- 20 menit sebelum akhirnya sopir angkot menyadari "keberadaan" kami yang tengah terseok-seok sambil mengelap keringat dan air mata karena kebingungan angkot yang ditunggu-tunggu belum juga muncul. Huaaa,, terima kasih abang angkot.
18.00 WIB - 19.30 WIB ::
Cukup memakan waktu lama untuk tiba di Guesthouse, Malang dan sekitarnya macet luar biasa karena banyaknya wisman yang betebaran dimana-mana. Manfaatkan waktu sebaik mungkin dengan memejamkan mata.. Capek juga seharian ngubek-ngubek Museum Angkut.. Mungkin ini yang disebut Qana'ah ('nrimo) bisa tertidur even di dalam angkot, haghaghag..
19.30 WIB - 21.00 WIB
Belanja logistik untuk persiapan ke Ranukumbolo. Padahal cuma beli air mineral dan obat-obatan. Mampir ke Dokter Praktek untuk bikin surat keterangan sehat. Cihuyy, salah satu persyaratan administrasi untuk naik gunung sudah dikantongin. Tinggal istirahat dan memulihkan stamina besok.

Sabtu, 2 Agustus 2014
05.00 WIB - 06.00 WIB ::
Shalat subuh dan persiapan check out. Pastikan semua barang tidak ada yang tertinggal di kamar penginapan dan prioritaskan seluruh barang yang akan sering digunakan ditaruh di bagian atas tas supaya tidak perlu bongkar-bongkar isi tas lagi.
06.00 WIB - 07.00 WIB ::
Sudah siap, tinggal cari sarapan. Untung ada Coto Makassar. Melipir deh buat isi perut sambil menunggu jemputan...
07.00 WIB - 07.30 WIB ::
Perut kenyang, hati pun senang. Jeep sudah sampai, saatnya bergegas untuk meluncur ..
07.30 WIB - 11. 00 WIB ::
Perjalanan menuju Tumpang setelah jemput 2 orang traveler lain (Mba Tesa dan Mba Remi) lalu mengambil perbekalan dulu ke rumah Mas Dod. Sampai di Tumpang, buat teman traveler yang belum punya Surat Keterangan Sehat bisa dibuat di Puskesmas di Tumpang. Oh ya, di Tumpang ini juga starting point untuk teman traveler yang mau melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dengan menggunakan jeep. Info yang saya dapatkan untuk penyewaan jeep berkisar 30ribu per orang dan harus terisi 12-15 orang. Kalau orang yang diangkut kurang dari itu, maka teman traveller harus menutupi sisa biayanya (share cost). Ada yang pakai jeep terbuka dan ada yang pakai truk. Kalau mau belanja perbekalan dulu, di sini juga ada pasarnya lho.
11.00 WIB - 11.30 WIB ::
Setelah sampai di Rest Area, teman traveller bisa melakukan proses registrasi di sini: Isi data diri, fotocopy KTP, Surat Keterangan Sehat asli dan fotocopy, materai Rp. 6.000,- (cukup 1 saja - for one group), dan biaya masuk ke TNBTS.
11.30 WIB - 14.30 WIB::
Menunggu kloter ke-3................... beeeeeeeppppppp ..................... Karena kami cuma ber7, jadi harus menunggu tim traveller lain dengan jumlah +/- 15 orang dalam 1 kendaraan. Agak boring, karena gak sabar juga pengen merasakan sensasi mendaki gunung.
14.30 WIB - 16.30 WIB:
Akhirnya truk kami datang!!! Tim traveler lain yang 1 kendaraan dengan kami seru-seru lho orangnya. Jadi perjalanan yang memakan waktu +/- 2 jam gak berasa karena guyonan mereka. Sudah gitu, sepanjang perjalanan ke TNBTS ini kami disuguhkan dengan pemandangan yang ruarrrrr biasaaa..

Gunung Batok
Cuma buat yang phobia ketinggian sebaiknya tidak melihat jalanan yang ada di bawah, karena di kanan-kiri ada jurang yang sangat dalam. Sad part-nya adalah saat kami melintasi jalanan yang berkelok-kelok itu, ada jeep yang masuk ke jurang, tapi untungnya tidak ada korban jiwa pas kejadian itu. :'(
16.30 WIB - 17.00 WIB ::
Ahaa akhirnya sampai juga di Desa Ranu Pani. Kami sudah mulai berjalan kaki dari sini turun dari jeep. Tiba di Pos Ranupani, kami harus lapor dulu dengan petugas jaga di sana. Sebenarnya batas maksimum untuk naik ke Ranukumbolo adalah jam 4 sore, tapi untung ada temennya Mas Dod yang lagi standby, jadi kami diijinkan naik. Alhamdulillah. Karena Plan A,B,C, 'till Z adalah teteup Ranukumbolo.
17.00 WIB - 18. 00 WIB ::
Bismillah pendakian pertama dimulai. Sempat terlintas rasa khawatir kala senja mulai menyapa dan malam pun tiba #edisiparnomakhlukastral . Mudah-mudahan semua berjalan lancar, berangkat ber7 dan pulang ber7. Bagi pemula seperti saya, wajar saja kalau istirahat sebentar-sebentar, maklum masih harus mengatur pernafasan dan ditambah dengan beban carrier yang cukup berat untuk ukuran saya. Kaki masih cukup kuat dan ringan untuk melangkah, cuma beban carrier saja yang agak mengganggu (lumrah saja sebetulnya, cuma saya saja yang agak manja). Menjelang maghrib kami sudah sampai di Pos Pertama. Alhamdulillah. Oh ya, sepanjang perjalanan kami banyak bertemu dengan para pendaki lainnya, kebanyakan yang mau turun. Ada yang bikin saya kagum, setiap kali kami berpapasan dengan para pendaki lain, mereka akan menyapa: "Mari", "Mari-mari", "Semangat ya!". Wah, semangat saya langsung terpompa saat itu juga. Sapaan seperti itu mengalirkan energi positif buat saya. Saya pun juga jadi bersemangat untuk menyapa mereka semua dan tidak ragu beramah tamah dengan mereka meski lewat sapaan singkat.
Hal unik lainnya, untuk dikenali bahwa ada "manusia", beberapa pendaki yang saya temui (mostly ladies) membawa lonceng. Jadi saat mereka berjalan, bunyi gemerincing akan mengikuti kemanapun mereka pergi. Just in case we're lost, we can use it for letting others to realize our presence. ;)
18.00 WIB - 22. 00 WIB ::
Kami pun tiba di Pos 1. Langit sudah mulai semakin gelap. Kami beristirahat sejenak dan mengisi perut kami dengan makanan ringan dan roti ala kadarnya, karena perjalanan masih jauh. Sampai di sini, siapkan senter atau headlamp untuk alat bantu penerangan. Kalau mengandalkan sinar rembulan di tengah cuaca berkabut, penglihatan saya agak remang-remang.
Yang agak bikin spooky, pas dikasih tahu "Kalau semisal, ada yang manggil nama kita atau melihat "sesuatu" sebaiknya diam saja. Don't be panic!". Huahhh,, ini the hardest part.. Okelah, bismillah semoga semua aman-aman saja. Tancap gassss!!!

Saya dan Mas Fuad ada di posisi depan. Kenapa saya mengincar posisi depan? Tujuannya untuk curi start biar bisa lebih awal beristirahat sambil menunggu teman-teman lain. Sambil berjalan saya sesekali melihat ke belakang ke arah teman-teman saya apakah persis di belakang saya atau agak tertinggal di belakang. Asik jalan malam-malam begini, menembus ranting dan dedaunan, menyium aroma tanah dan daun yang khas. Sekali waktu jika nafas mulai terasa sesak dan pundak mulai berasa dihimpit beban carrier, saya tidak memaksakan diri untuk berjalan, saya harus beristirahat. Tapi kalau tidak bergerak pun, udara dingin akan terus menyergap. Saya berusaha untuk menikmati perjalanan malam ini sambil mendengarkan musik agar perjalanan yang di beberapa titik agak sulit dilewati entah itu mendaki karena tanjakannya sangat terjal, banyak rintangan batu, belum lagi kondisi tanah yang berlumpur, batang kayu yang merintangi jalan (saya sempat terantuk dan lukanya masih ada sampai sekarang. Gak apa-apa. Kenang-kenangan :D), dan sebagainya jadi terasa menyenangkan.
Rasanya tak sabar ingin segera tiba. Merebahkan diri, melepaskan beban carrier, dan memijat-mijat tulang belikat yang rasanya sakit luar biasa. Saya pun semakin memacu langkah saya agar segera tiba di Ranukumbolo.
Dan setelah perjalanan panjang berjam-jam, kami sudah bisa melihat banyak tenda yang menyala-nyala dari kejauhan layaknya kunang-kunang. Ah, paradise!!! Terbayar juga perjalanan yang penuh perjuangan ini.
22.00 WIB - 22.30 WIB ::
Sesampainya di spot yang menurut Mas Dod terbaik untuk di Rakum, kami pun mulai berbenah.. Bersiap untuk shalat, makan, dan bobok cantik :P.
Horrible tragedy was happened to me. Guess what??? Menginjak "Ranjau" manusia.. Yes!!! Niat hati adalah mengeluarkan semua racun yang masuk dalam tubuh melalui urinasi. Tapi apalah daya saat harus mencari spot terbaik supaya nyaman justru yang terjadi adalah sebaliknya. :'( Rasanya campur aduk saat mengetahui fakta bahwa kaki kita menginjak "ranjau" dan duhaiiii masih "fresh from the oven". Sumpah itu sangat melukai hati, indera penglihatan, dan indera penciuman.
Ini salah satu hal yang paling saya takut dan khawatirkan saat masuk hutan belantara. Jadi, resepnya kita harus waspada tingkat tinggi dan betul-betul memeriksa spot kita saat ingin menunaikan hajat kita..tsaahhh..
Setelah bersusah payah membersihkan "ranjau", bersiap untuk shalat lalu bobo.. Sudah tidak bernafsu makan malam sebenarnya, karena tubuh saya sudah berbicara letih dan hawa dingin secara perlahan semakin menggigit dan menusuk tulang (tubuh saya yang "tipis" ini tidak punya cukup banyak lemak untuk bantu menghangatkan) alhasil saya hanya bisa memeluk Indah di malam yang sedingin ini .. 3 lapis baju tak cukup hangatkan tubuh ini.. Tak bisa mimpi indah dan tidur nyenyak.. Mungkin ini yang disebut hypothermia.. 
Saat itu juga saya berdo'a dalam hati, "Tuhan, andaikan ini adalah malam terakhirku. Aku hanya ingin Kau ampuni dosaku. Titip salam buat orang tuaku dan keluargaku karena belum sempat bahagiakan mereka. Aku pasrah. Aamin"..
Rasanya penuh sesal, kenapa bodohnya saya bisa sampai sejauh ini hanya untuk menyiksa diri saya sendiri dengan rasa dingin dan tidak nyaman ini. Saya bertekad saya tidak akan mencoba naik gunung lagi. Mungkin saya akan kapok.

Tapi.. bagaimanapun saya harus kuat saya harus bisa bertahan..

Minggu, 3 Agustus 2014
04.30 WIB - 05.00 WIB ::
Alarm sudah berteriak-teriak.. Saatnya bergegas untuk shalat subuh. Karena hawa dingin semakin menjadi, saya tak sanggup untuk keluar tenda dan memilih untuk bertayamum lalu shalat subuh sambil duduk (ukuran tenda kecil, sehingga tidak memungkinkan untuk shalat sambil berdiri).
05.30 WIB ::
Mencoba mengintip dari balik tirai tenda, siapa tahu sudah bisa melihat cahaya mentari pagi di Ranukumbolo [karena sunset gak kebagian, yang bisa ditunggu ya sunrise].. Sayangnya, cuaca sedang tidak bersahabat. Kabut masih menyelimuti surganya Semeru ini. Hanya bisa meringis dan belum dibuat terkagum-kagum betapa indahnya Ranukumbolo. Maklum saja, tiba di sana malam hari jadi pemandangan sekitar belum terlihat jelas.
06.00 WIB - 07.30 WIB ::
Saya pun mencoba memberanikan diri untuk keluar dari tenda biarpun hawanya masih terasa sangat dingin.. Brrrrrr..... Terus daripada diem bengong nungguin kabut yang entah kapan menghilang, saya jeprat-jepret tenda tetangga kanan-kiri aja deh.. (amateur photographer, cuma pake HP biasa aja)


Mba Remi udah mulai sibuk masak-masak.. Ikut nimbrung, bikin susu jahe, masak mie, makan nasi semalem yang udah dingin ditambah ikan sarden ala kadarnya, tambah minum teh hangat juga.. Alhamdulillah wa syukurillah 'ala ni'matillah.. Biarpun awalnya geli, kaget, dan aneh juga, masa' makanan dan minumanya dimasak pake air danau Rakum??? Well, saya baru tahu darimanapun sumber mata airnya, selama itu masih bisa dikonsumsi dan dimasak serta tidak berbahaya bagi tubuh itu yang harus kita nikmatin. Apapun yang tersedia di alam, saat naik gunung semua makanan dan minuman terasa enak dan nikmattt. Ga pake gengsi, ga pake ribet, ga pake takut keracunan. Jadi harus bisa beradaptasi dalam kondisi apapun. Itu cara untuk bisa bertahan dari rasa lapar dan dahaga selama di gunung. [intinya bisa keluar dari zona nyaman]
07.30 - 10.00 WIB ::
Saatnya bergegas menuju Tanjakan Cinta yang legendaris.
Jangan lupa sempatkan berfoto ria persis di depan tanjakan cinta. Sumpah keren bangetttttt.. Hadap depan ada tanjakan cinta, belakangnya danau Rakum.. Sama persis spotnya di film "5 cm".. Jangan lupa siapkan kertas dan pena.. Tulis rasa sayang kita buat orang-orang tersayang (keluarga, sahabat, guru, dsb.) di lembar kertas, siap untuk difoto dengan latar pemandangan yang menakjubkan.

Mau tau rasanya menanjak di Tanjakan Cinta??? Silahkan coba dan deskripsikan sendiri... :P
 
Pas sudah sampai di puncak Tanjakan Cinta dan menengok ke arah danau Rakum. MasyaAllah.. saya ga tau musti bilang apa.. Yang pasti.. Tuhannnnn terima kasih Engkau telah menyuguhkan pemandangan semenakjubkan ini dan saya diberi kesempatan untuk bisa menyaksikannya sendiri. #tafakuralam Karena lensa kamera saya kurang memadai, hasilnya kurang wahh.. Bersyukurlah karena Tuhan telah menciptakan lensa mata yang tidak ada tandingannya dengan lensa kamera manapun. Semua terekam jelas di mata dan memori otak saya.

 
Pemandangan dari Puncak Tanjakan Cinta

Gak sampai di situ, saya harus segera ke Oro-oro ombo. Gak taunya saya ga sebegitu gigihnya untuk bisa menari-nari di Oro-oro ombo. Pemandangan dari atas sih Oro-oro ombonya tidak terlalu bagus, jadi saya urung untuk ke sana. Menyesal juga gak nekat diterusin jalan ke sana. Karena setelah share dengan teman [sepulangnya dari Rakum], justru oro-oro ombonya masih bermekaran, dari jauh memang tidak terlihat, tapi setelah didekati .. hmmm.. langsung bisa bikin video klip ala Syahrini dengan "Feel Free"nya.. Nyuesel gilaaaa rek.. Ahh sudahlah... [Babe "StandUpComedy"].. Semoga masih ada kesempatan berikutnya.

10.30 WIB - 11.00 WIB ::
Persiapan untuk pulang ~ lipat tenda, masukkan semua perlengkapan ke dalam carrier, dan masukkan sampah yang berserakan ke dalam plastik dan bawa pulang sampai ketemu tempat pembuangan sampah. Lucu juga, tas carrier kita digantungin sama plastik sampah. Jadi keren malah.. Bismillah.. Sampai jumpa Rakum.. Sampai ketemu di lain waktu..

"Remember, "It's not about DESTINATION. It's a JOURNEY. Unpredictable things might happened, so just enjoy the show."


For more photos, check out my instagram: http://instagram.com/dewiemy