"Barang siapa menginginkan dunia, maka dengan ilmu. Barang siapa mengingkan akhirat, maka dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, maka dengan ilmu." HR. At-tirmidzi
Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar; Masjid Daarut Tauhid - Cipaku (13 Agustus 2014)
~ Memperbaiki diri adalah kunci utama untuk mengubah orang lain. Kalau kita sudah gigih dalam memperbaiki diri, maka Allah akan melihatnya dan kemudian membolak-balikkan hati hamba-Nya untuk kemudian akan mengubah seperti harapan kita. Kalau kita sendiri tidak mau berubah, tidak perlu menyalahkan orang lain.
~ Sempurnanya segala sesuatu itu adalah mutlak ada dalam genggaman Allah. Keteladanan bukan untuk dipuji namun supaya disukai Allah. Dan Rasulullah adalah sebaik-baik teladan, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab ayat 21:
Artinya:
"Sesungguhnya telah ada dalam diri
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.
~ Apapun keinginan kita agar orang lain berubah, berusahalah sekuat mungkin untuk mengubah diri terlebih dahulu. Jangan menuntut orang lain berubah, namun diri kita tidak melakukannya.
~ Cara Rasulullah dalam mendidik anak/orang lain, dengan:
1. Memberi Keteladanan
Kita sebagai pendidik (guru/orang tua/calon orang tua) adalah role model bagi anak-anak. Jadi harus hati-hati dalam bertindak maupun berucap. Karena ada mesin fotocopy super canggih di dekat kita.
Kita beri teladan yang terbaik, karena teladan lebih bermakna daripada kata-kata. Segala kebaikan itu harus "Mulai dari DIRI SENDIRI, dari HAL YANG KECIL, dan LAKUKAN dari SEKARANG."
Kita tidak akan merugi jika kita tidak memulai untuk mengubah diri menjadi yang lebih baik. Yang merugi itu adalah ketika meminta orang lain untuk berubah tetapi dirinya sendiri tidak berubah atau disebut "kaburo maqtan" (kita mengatakan sesuatu yang tidak kita kerjakan, red.) dan Allah amat membenci itu.
Artinya:
"(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." {QS. Ash-shaff (61): 3}
Dakwah yang terpenting itu adalah memperbaiki diri. Dengan diri bersemangat untuk memperbaiki diri, maka akan lebih berasa dalam hati. Sebelum mengajari orang lain, sekuat tenaga harus bisa mengubah diri menjadi lebih baik dulu.
2. Kelembutan Hati
Bahasa hati merupakan bahasa yang dipahami oleh semua orang. Tidak usah repot menggunakan bahasa Inggris, bahasa Arab, dan sebagainya, cukup dengan bahasa hati maka akan langsung terasa di hati pula. Hati itu hanya bisa disentuh dengan kebersihan hati.
Mendidik itu dengan kebersihan hati. Periksa dosa, terkadang kita sebagai orang tua atau pendidik terjebak dalam perasaan ujub (kagum pada diri sendiri, red.), merasa paling berjasa, merasa paling tahu, dan paling mengerti. Kalau mau berhasil dalam mendidik, jauhi penyakit-penyakit hati TENGIL (Takabur, Egois, Norak, Galak, Iri, dan Licik).
Didik anak dengan rendah hati, sabar, dan ikhlas.
3. Welas Asih atau Kasih Sayang
Tiga ciri sifat Rasulullah: Empati, Keinginan yang kuat untuk membuat orang selamat, dan Penyantun. Rasulullah selalu mendukung dalam bantuan, bukan memvonis.
Artinya:
128. "Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat
terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan
keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang mukmin."
129. "Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah
bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan
Dia adalah Tuhan yang memiliki ´Arsy yang agung."
{QS. At-Taubah: 128-129}
Fitrah manusia itu adalah menyukai kelembutan, karena kelembutan itu memperindah.
Artinya:
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam
urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka
bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang bertawakkal kepada-Nya."
{QS. Al-Imran: 159}
4. Adil
Adil itu adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, bukan sama rata. Adil lebih dekat kepada takwa, dzhalim itu karena nafsu. Sedangkan adil itu bukan nafsu, tetapi tegas dan santun.
Marah itu karena dibawa nafsu yang berujung pada dzhalim. Pemarah itu kata-katanya kasar. Wajib bagi kita untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh memerangi dan menundukkan hawa nafsu). Jadi, "Laa Taghdhob" (jangan marah, red.).
Untuk mendidik yang adil itu harus sesuai fakta (benar, akurat, lengkap) dan sesuai dengan aturan.
Rasulullah jarang sekali marah. Rasulullah hanya marah pada sesuatu hal yang Allah tidak suka. Marahnya pun simpel dan tidak keluar dari kebenaran.
5. Istiqomah
Amal yang disukai Allah bukan yang banyak tapi amal yang dilakukan secara ajeg/konsisten (istiqomah) walaupun itu sedikit. Karomah (kemuliaan, red.) itu datangnya dari ke-istiqomah-an. Konsisten itu kualitas sama namun kuantitasnya naik sesuai dengan kondisi.
Berat ringannya suatu cobaan itu bergantung dari bagaimana kita memposisikannya. Kalau kita mencari kedudukan di sisi Allah maka jadi ringan, tapi kalau tujuannya untuk mencari kedudukan di mata manusia, semua itu akan terasa berat.
Kalau disakiti orang lain itu dinikmati saja dan bersabar, karena bisa jadi kita punya dosa yang hanya bisa gugur dengan disakiti orang lain. Tak perlu banyak berkeluh kesah kalau yang jadi tujuan hanya Allah semata, karena Allah akan selalu ada untuk menolong dan menguatkan hamba-hambaNya yang bertakwa.
Ihsan adalah pribadi yang melakukan amal dan cukup hanya Allah yang menjadi saksi "wakafa billahi syahida".
Semoga bermanfaat.
Resumed by: Naruti Chan
C'est Moi
- Dewi Emy
- Moslem Agent ✿ Travelicious ♥ Culinary Lover ♥ Volunteer ♥ Startup Entrepreneur ✿ Blogger ☆☆☆