"Barang siapa menginginkan dunia, maka dengan ilmu. Barang siapa mengingkan akhirat, maka dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, maka dengan ilmu." HR. At-tirmidzi
Posted by Dewi Emy in
on
-
Bismillahirrahmanirrahiim..
~ Hidayah itu serupa dengan rejeki. Hidayah adalah nikmat yang Allah berikan kepada hamba yang Ia kehendaki.
Perhatikan dua ayat Al-Quran berikut ini:
1. Surat Fathir ayat (8)
"Maka
apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang
buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang
tidak ditipu oleh syaitan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa
yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka
janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."
2. Surat Ar-Ra'd ayat (26)
Artinya:
"Allah
meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.
Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu
(dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang
sedikit)."
Jikalau rejeki yang kita peroleh datang karena usaha yang telah kita lakukan, maka sama halnya dengan hidayah yang juga perlu kita usahakan sehingga kita mendapatkannya.
Ada yang diberikan kenikmatan hidayah yang luas atau yang biasa saja, bahkan ada yang tidak diberikan hidayah sama sekali.
Cara melihat didapatkannya hidayah seseorang sama dengan cara melihat orang tersebut mendapatkan rejekinya. Periksa orang-orang yang ada di sekitar kita, jika ada orang yang diberikan rejeki yang banyak karena upaya yang dilakukan orang tersebut juga banyak dan sebaliknya.
Rejeki hidayah tidak bisa dipaksakan. Kita hanya mampu memberikan semangat, modal atau pancingan, masalah orang tersebut akan berubah atau tidaknya, tergantung kepada masing-masing orang.
Tugas Rasul adalah sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada manusia, Rasul tidak dapat memberikan hidayah.
Artinya:
"Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan." {QS. Al-Kahfi: 56}
Rasulullah saw. bersabda:
“Tidak ada seorang nabi pun sebelumku kecuali wajib baginya untuk menunjukkan kepada umatnya suatu kebaikan yang dia ketahui untuk mereka dan memperingatkan umatnya dari kajelekan yang dia ketahui untuk mereka”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (1844)An-Nasa’iy (4191), dan Ibnu Majah (3956)]
Dijelaskan lebih lanjut bahwasannya seorang guru tidaklah dapat membagi-bagi hidayah kepada murid-muridnya. Ada 6 faktor yang dapat dimiliki seorang guru untuk menjadikan murid-muridnya pandai:
1. Guru berperan sebagai "Instructor" : Membimbing murid-muridnya agar terarah
2. Guru berperan sebagai "Motivator" : Menyemangati para muridnya untuk berbuat baik
3. Guru berperan sebagai "Fasilitator" : Membuka media bagi para muridnya ke akses ilmu pengetahuan
4. Guru berperan sebagai "Consultant" : Memberi ide/masukan kepada para muridnya agar masuk ke dalam hatinya
5. Guru berperan sebagai "Mediator" : Memberi solusi kepada muridnya agar keluar dari masalah yang tengah dihadapi
6. Guru berperan sebagai "Inspirator" : Memberi insipirasi kepada para muridnya agar memiliki ide
Seorang guru dapat dikatakan sukses jika mampu membangkitkan kesadaran pada jiwa muridnya untuk mengarahkannya pada pemahaman yang lurus, pemikiran yang cerdas, berkeinginan mulia, bersemangat dan terarah, serta fokus pada realita.
Ada 6 sebab atau syarat datangnya hidayah pada seseorang, yaitu:
1. Kejujuran
Ibnu Mas'ud menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” [HR. Muslim no. 2607.]
2. Kesadaran
Menyadari akan hakikat dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah dan munculnya kesiapan untuk mendapatkan hidayah dari dalam jiwanya. Munculnya kesadaran untuk bersemangat dalam kebaikan dan menghindari diri dari kejahatan.
Tugas Rasul adalah sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada manusia, Rasul tidak dapat memberikan hidayah.
Artinya:
"Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan." {QS. Al-Kahfi: 56}
Rasulullah saw. bersabda:
“Tidak ada seorang nabi pun sebelumku kecuali wajib baginya untuk menunjukkan kepada umatnya suatu kebaikan yang dia ketahui untuk mereka dan memperingatkan umatnya dari kajelekan yang dia ketahui untuk mereka”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (1844)An-Nasa’iy (4191), dan Ibnu Majah (3956)]
Dijelaskan lebih lanjut bahwasannya seorang guru tidaklah dapat membagi-bagi hidayah kepada murid-muridnya. Ada 6 faktor yang dapat dimiliki seorang guru untuk menjadikan murid-muridnya pandai:
1. Guru berperan sebagai "Instructor" : Membimbing murid-muridnya agar terarah
2. Guru berperan sebagai "Motivator" : Menyemangati para muridnya untuk berbuat baik
3. Guru berperan sebagai "Fasilitator" : Membuka media bagi para muridnya ke akses ilmu pengetahuan
4. Guru berperan sebagai "Consultant" : Memberi ide/masukan kepada para muridnya agar masuk ke dalam hatinya
5. Guru berperan sebagai "Mediator" : Memberi solusi kepada muridnya agar keluar dari masalah yang tengah dihadapi
6. Guru berperan sebagai "Inspirator" : Memberi insipirasi kepada para muridnya agar memiliki ide
Seorang guru dapat dikatakan sukses jika mampu membangkitkan kesadaran pada jiwa muridnya untuk mengarahkannya pada pemahaman yang lurus, pemikiran yang cerdas, berkeinginan mulia, bersemangat dan terarah, serta fokus pada realita.
Ada 6 sebab atau syarat datangnya hidayah pada seseorang, yaitu:
1. Kejujuran
Ibnu Mas'ud menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” [HR. Muslim no. 2607.]
2. Kesadaran
Menyadari akan hakikat dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah dan munculnya kesiapan untuk mendapatkan hidayah dari dalam jiwanya. Munculnya kesadaran untuk bersemangat dalam kebaikan dan menghindari diri dari kejahatan.
Artinya:
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." {QS. Ar-Ra'd: 11}
Jikalau ada seseorang masih berada dalam fitrahnya, maka ia masih diperlakukan baik oleh Allah SWT dan mendapat curahan kasih sayang-Nya. Namun, apabila ia berpaling dari fitrah-Nya (menjadi kafir, bermaksiat), maka akibatnya adalah Allah akan mencabut nikmat hidayah darinya.
3. Kesungguhan dalam mencari kebenaran.
Artinya:
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." {Al-'Ankabut: 69}
Ini adalah ayat yang menjelaskan tentang "jihad" bukan berperang dengan pedang (berhijrah) seperti kisah salah seorang sahabat Rasulullah saw., yaitu Salman Al Farisi, yang berhijrah ke Yatsrib (Madinah, red.) untuk mendapatkan hidayah.
4. Mendengarkan nasihat dan mengikutinya
Seseorang yang ingin mendapatkan hidayah harus rajin dalam menunutut ilmu dan rajin pula untuk mendengarkan nasihat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Az-Zumar ayat 18 yang berbunyi:
Artinya:
"Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal."
5. Tidak sombong
Sesorang harus bersikap tawadhu' (meletakkan dirinya pada posisi yang seharusnya, sewajarnya) dan tidak berlaku sombong (menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya). Disebutkan dalam sebuah hadits:
"Tidak akan masuk surga orang yg dalam hatinya terdapat kesombongan (walau) sebiji sawi, & tak akan masuk neraka seorang yg di dalam hatinya terdapat keimanan (walau) sebiji sawi." [HR. Ibnumajah No. 4163].
Belajar dari kisah Fir'aun, Abu Jahal, dan lainnya yang tidak mau menerima hidayah karena mereka sombong, berbangga diri atas kedudukannya dan hartanya yang justru tidak menambah keimanan mereka. Bagaimana seseorang layak sombong padahal mereka diciptakan dari air mani (nuthfah).
Artinya:
"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah." {Al- Hajj: 5}
6. Berlapang dada terhadap ajaran Islam
Jika ada seseorang yang menghina orang lain itu menandakan bahwa orang tersebut tidak berlapang dada. Begitupula jika ada orang yang melihat orang lain lebih khusyu' ibadahnya lalu hatinya menjadi panas, maka ia termasuk orang yang juga tidak berlapang dada.
Artinya:
"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." {QS. Al-An'am: 125}
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." {QS. Ar-Ra'd: 11}
Jikalau ada seseorang masih berada dalam fitrahnya, maka ia masih diperlakukan baik oleh Allah SWT dan mendapat curahan kasih sayang-Nya. Namun, apabila ia berpaling dari fitrah-Nya (menjadi kafir, bermaksiat), maka akibatnya adalah Allah akan mencabut nikmat hidayah darinya.
3. Kesungguhan dalam mencari kebenaran.
Artinya:
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." {Al-'Ankabut: 69}
Ini adalah ayat yang menjelaskan tentang "jihad" bukan berperang dengan pedang (berhijrah) seperti kisah salah seorang sahabat Rasulullah saw., yaitu Salman Al Farisi, yang berhijrah ke Yatsrib (Madinah, red.) untuk mendapatkan hidayah.
4. Mendengarkan nasihat dan mengikutinya
Seseorang yang ingin mendapatkan hidayah harus rajin dalam menunutut ilmu dan rajin pula untuk mendengarkan nasihat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Az-Zumar ayat 18 yang berbunyi:
Artinya:
"Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal."
5. Tidak sombong
Sesorang harus bersikap tawadhu' (meletakkan dirinya pada posisi yang seharusnya, sewajarnya) dan tidak berlaku sombong (menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya). Disebutkan dalam sebuah hadits:
"Tidak akan masuk surga orang yg dalam hatinya terdapat kesombongan (walau) sebiji sawi, & tak akan masuk neraka seorang yg di dalam hatinya terdapat keimanan (walau) sebiji sawi." [HR. Ibnumajah No. 4163].
Belajar dari kisah Fir'aun, Abu Jahal, dan lainnya yang tidak mau menerima hidayah karena mereka sombong, berbangga diri atas kedudukannya dan hartanya yang justru tidak menambah keimanan mereka. Bagaimana seseorang layak sombong padahal mereka diciptakan dari air mani (nuthfah).
Artinya:
"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah." {Al- Hajj: 5}
6. Berlapang dada terhadap ajaran Islam
Jika ada seseorang yang menghina orang lain itu menandakan bahwa orang tersebut tidak berlapang dada. Begitupula jika ada orang yang melihat orang lain lebih khusyu' ibadahnya lalu hatinya menjadi panas, maka ia termasuk orang yang juga tidak berlapang dada.
Artinya:
"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." {QS. Al-An'am: 125}
~~~~~~~~~~~~//~~~~~~~~~~~~
C'est Moi
- Dewi Emy
- Moslem Agent ✿ Travelicious ♥ Culinary Lover ♥ Volunteer ♥ Startup Entrepreneur ✿ Blogger ☆☆☆
