"Barang siapa menginginkan dunia, maka dengan ilmu. Barang siapa mengingkan akhirat, maka dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, maka dengan ilmu." HR. At-tirmidzi


Iman itu terkadang menggelisahkan atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban. Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim as. ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, "Belum yakinkah engkau akan kuasa-Ku?", dia menjawab sepenuh hati, "Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram."

Tetapi keajaiban itu tidak serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasa-Nya dalam satu kata "Kun!", kita tahu, itu bukan yang terjadi. Ibrahim as. harus bersusah payah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah yang curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Dan dia memanggil burung-burung itu, seketika burung-burung yang telah dicacahnya itu mendatanginya. Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga.

Namun, apakah kerja keras kita selalu ditaburi dengan keajaiban?

Siti Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim as. di suatu lembah. Sunyi kini menyergap, kegersangan pun membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohonan untuk bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak adanya seorang manusia pun untuk berbagi keluh kesah. Kecuali hanya bayinya, Ismail as. Dia kini mulai menangis begitu kerasnya karena merasa lapar dan kehausan.

Maka Siti Hajar pun berlari, mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada 2 bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada apapun. Sama sekali tak ada tanda-tanda adanya sumber mata air. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik sebanyak 7 kali. Mungkin dia tahu, tak akan ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah SWT. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, "Jika ini perintah Allah. Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kami!"

Maka keajaiban itu memancar. Zam-zam. Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu justru muncul dari kaki Ismail as. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Siti Hajar pun merasa takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

Mari belajar pada Siti Hajar bahwa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah SWT. Mari bekerja keras seperti Siti Hajar dengan gigih dan yakin. Bahwa Dia tidak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tidak kita sangka atas kehendak-Nya Yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu menenangkan hati ini dari arah manapun yang Dia kehendaki.

Bekerja saja, maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.

Di lintas sejarah berikutnya. Datanglah seorang lelaki pengemban dakwah untuk menjadi 'ibrah (pelajaran, red.). Dari Mekkah dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatupun dia bawa dari kekayaan yang melimpah yang pernah memudahkannya. Dia, Abdurrahman bin 'Auf. Dan Rasulullah saw. yang tahu gaya hidupnya di Mekkah mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya, Sa'ad ibn Ar Rabi'.

Kita hafal kemuliaan dua orang ini. Yang satu menawarkan membagi rata segala miliknya, baik rumah dan kebun kurma. Yang satu dengan bersahaja berkata, "Tidak saudaraku. Tunjukkan saja jalan ke pasar!." Dimulai dari semangat menjaga 'izzah (kemuliaan; kehormatan, red.), tekadnya untuk mandiri serta demi menjalankan tugas suci menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah, terbitlah keajaiban itu. Abdurrahman bin 'Auf memang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya dipenuhi dengan keimanan dan akalnya dipenuhi dengan manhaj (metode, red.) ekonomi Qurani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang pas, keadilan dalam bertransaksi, transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.

Sebulan kemudian, dia telah menghadap sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak, dan ia letakkan 40.000 dinar di hadapan Rasul, beliau berkata, "Semoga Allah memberkahi apa yang kau infaqkan juga yang kau simpan."

Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam pikiran kita, memulai dengan usaha dengan seorang istri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi Abdurrahman bin 'Auf agaknya itu terlihat justru sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan ikhtiar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti Abdurrahman bin 'Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu? Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke arah barat, lalu sampailah ia di benua Amerika.

Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. "Tuan-tuan," suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. "Siapa di antara kalian yang mampu membuat telur ini berdiri tegak?". "Christopher", kata seorang tua yang ada di sana, "Itu adalah hal yang tidak mungkin." Dan semua mengangguk mengiyakan. "Saya bisa", kata Columbus. Dia menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu telur itu diberdirikannya dan tegak. "Oh, kalau begitu kami juga bisa," kata seseorang. "Ya.. ya.. ya..," seru yang lain. Dan senyum Columbus semakin melebar. Katanya, "Itulah bedanya antara aku dan kalian, tuan-tuan. Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil."

Nah, para pengemban dakwah, terus bekerjalah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah yang tak terduga. Mulailah. Karena dalam keberanian untuk memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tidak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita harus tetap bekerja, karena bekerja adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti dalam firman-Nya, "... Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih." {QS. Saba': 13}

                                                        "Aku percaya
                                     maka aku akan melihat keajaiban
                                      iman adalah mata yang terbuka
                                       mendahului datangnya cahaya"

                                                                       ~Aku~







Sumber lain: