"Barang siapa menginginkan dunia, maka dengan ilmu. Barang siapa mengingkan akhirat, maka dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, maka dengan ilmu." HR. At-tirmidzi






Turunnya Ayat Hijab

Suatu hari Thalhah berbincang dengan Aisyah ra., kemudian Rasul datang, wajahnya pias pertanda tak suka. Dalam hati Thalhah bergumam, "Beliau melarangku berbicara dengan Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Allah, takkan ku biarkan orang lain mendahului melamar Aisyah." Dan pernah suatu kali disampaikannya pula kepada seorang kawan, "Akan kunikahi Aisyah jika Rasul telah wafat."

Gumam dan ucapannya disambut wahyu, Allah menurunkan firman-Nya dalam Surat Al-Ahzab ayat 53,"... dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada istri-istri Nabi, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasul dan tidak boleh menikahi istri-istrinya sesudah wafatnya selama-lamanya. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah."

Thalhah menangis ketika ayat itu dibacakan padanya. Ia lalu memerdekakan budaknya, menyumbangkan 10 unta di jalan Allah dan berumrah dengan berjalan kaki sebagai tanda taubatnya atas ucapannya.

Adapun Thalhah memberi nama Aisyah binti Thalhah pada putrinya. Putri yang diharapkannya kelak menjadi permata di zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya laiknya Aisyah binti Abu Bakar.

Kedermawanan Thalhah
Thalhah juga adalah seorang hartawan yang murah hati. Semua hartanya menjadi jalan jihadnya untuk agama Allah. Ia diberikan tanpa batas. Allah pun menambah lagi hartanya tanpa batas. Rasulullah saw. memberinya gelar "Thalhah Al Khair", "Thalhah Al Judd", dan "Thalhah Al Fayadh" yang menggambarkan kemurah hatiannya.

Istrinya, Su'da binti Auf, bercerita, "Suatu hari aku melihatnya bersedih. Aku bertanya kepadanya, ada apa denganmu?" Thalhah menjawab, "Harta yang ada padaku begitu banyak hingga membuatku sedih dan pusing." Aku berkata, "Tidak usah bersedih. Bagikan saja."

Assaib bin Zaid berkata tentang Thalhah, katanya, "Aku berkawan dengan Thalhah baik dalam perjalanan maupun sewaktu bermukim. Aku melihat tidak ada seorangpun yang lebih dermawan dari dia terhadap kaum muslimin. Ia mendermakan uang, sandang, dan pangannya." Jaabir bin Abdullah bertutur, "Aku tidak pernah melihat orang yang lebih dermawan dar Thalhah walaupun tanpa diminta."


                                          ~~~~~~~~~~~~~~~~~//~~~~~~~~~~~~~~~~~ 


Sumber:
1. Buku "60 Sirah Rasulullah saw." karangan Khalid Muhammd Khalid.
2. Buku "Dalam Dekapan Ukhuwah" karangan Salim A. Fillah.
3. Khasanah Trans 7.



Diringkas oleh: Ulya (relawan @PcintaAnakYatim)