"Barang siapa menginginkan dunia, maka dengan ilmu. Barang siapa mengingkan akhirat, maka dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, maka dengan ilmu." HR. At-tirmidzi



Teguran Umar ibn Khaththab
Menjelang wafatnya, Umar ibn Khaththab diriwayatkan oleh Imam Az-Zuhri sebagaimana diuraikan oleh Ibnu Abil Hadiid dalam Kitab Syarh. “Ketika berbaring akibat lukanya” begitu tulis beliau. Umar ibn Khaththab memberikan penilaian kepada enam calon penggantinya. Keenam orang itu antara lain adalah Az-Zubair ibn Al-‘Awwam, Thalhah ibn ‘Ubaidillah, Sa’ad ibn Waqqash, Ali ibn Abi Thalib,  ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, dan ‘Utsman ibn Affan.


Kepada Thalhah ibn ‘Ubaidillah, Khalifah Umar bertanya pada permulaannya. “Apakah aku akan bicara tentangmu atau diam?” tanyanya.


“Bicaralah.Tapi memang aku tahu, sesungguhnya engkau takkan bicara tentang kebaikanku sedikitpun!” jawab Thalhah.


“Demi Allah, hai Thalhah, aku tidak mengenalmu lagi sejak hilangnya jari-jarimu di Perang Uhud .Kau dirasuki bangga diri dan sombong. Telah wafat Rasulullah dalam keadaan murka atas apa yang kau katakan sehingga turunlah ayat hijab. Hai Thalhah, apakah akan aku tambah lagi ataukah aku diam?” kata Umar.


Thalhah nyaris menangis menjawab.“Diamlah! Itu cukup!” katanya sambil terisak. Tapi Thalhah tidak berkeinginan menjadi khalifah. Ia lebih menjadi mujahid dan  memilih ‘Utsman ibn Affan untuk menjadi khalifah selanjutnya.



Waq’atul Jamal

Saat terjadi pemberontakan pada masa pemerintahan Khalifah Utsman, Thalhah mendukung para pendemo yang mengusulkan perubahan dan perbaikan yang berujung terbunuhnya Utsman.


Ketika terbunuhnya ‘Utsman ibn ‘Affan di tangan pemberontak, Thalhah beserta Az-Zubair dan ‘Aisyah meminta untuk ditegakkannya keadilan ke ‘Ali.


Pada Perang yg dikenal sebagai Waq’atul Jamal, ‘Ali mengirim utusan agar Thalhah dan Zubair datang menemuinya. ‘Ali menyeka airmatanya setelah berpelukan dengan keduanya.Lalu berkata, “Ingatkah engkau hai Thalhah, mengapa Allah menurunkan ayat tentang hijab bagi istri Nabi dan mengapa Dia melarang kita untuk menikahi janda beliau?”


Thalhah terisak, lalu ‘Ali meneruskan kata-katanya, “ayat itu turun karena maksud hati dan ucapanmu untuk menikahi ‘Aisyah dan kini sesudah beliau benar-benar wafat, mengapa engkau justru membawa ‘Aisyah keluar dari hijabnya, mengendarai kuda, dan berperang di sisimu?”


Thalhah menubruk, memeluk dan menangis di bahu ‘Ali.Mereka berdamai dan menyudahi perang. Namun sepulangnya dari kemah ‘Ali, Thalhah dan Zubair dibunuh oleh orang-orang yang tidak menghendaki perdamaian. ‘Ali berduka.

Seusai pemakaman, 'Ali menimang putera Thalhah sambil berbisik, "Nak, aku sungguh berharap, aku dan ayahmu termasuk orang-orang yang difirmankan Allah dalam Surat Al-Hijr ayat 47,"... dan Kami lenyapkan segala rasa dendam dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadapan di atas dipan-dipan."



                                                           ~~~~~~~~~~~~~//~~~~~~~~~~~~~

Sumber:
1. Buku "60 Sirah Rasulullah saw." karangan Khalid Muhammd Khalid.
2. Buku "Dalam Dekapan Ukhuwah" karangan Salim A. Fillah.
3. Khasanah Trans 7.



Diringkas oleh: Ulya (relawan @PcintaAnakYatim)